Jumat, 28 Maret 2014

Ketika Media Televisi Hanyalah Sebuah Sarana Politik

Tahun 2014 pastinya tahun yang sangat penting buat Indonesia. Pesta demokrasi bakal digelar mulai 9 April nanti. Semua calon legislatif partai dan calon presiden sudah mulai berlomba-lomba berkampanye untuk mendapatkan perhatian dari rakyat Indonesia. Kebetulan ini adalah pertama kalinya saya akan memilih presiden Indonesia. Jujur, saya bukan termasuk orang yang menyukai politik karena menurut saya, politik adalah salah satu bidang yang... memusingkan. Cuman untuk seorang anak jurusan jurnalistik, kita memang dituntut tetap update dengan masalah yang terjadi di berbagai bidang, baik di dalam negeri dan luar negeri.

Setelah banyak belajar mengenai media, hal yang paling bisa terlihat bahwa teori-teori yang saya pelajari itu memang benar adalah pada momen-momen semua partai berlomba-lomba kampanye di sana-sini. Kekuasaan sang pemilik media sangat kental terlihat mulai dari iklan yang ditampilkan dalam media ataupun dari pemberitaan mengenai partai si pemilik media tersebut. Bahkan ada yang lebih kreatif, berperan dalam sebuah sinetron. Seperti yang dikutip dari antaranews.com, KPU (Komisi Pemilihan Umum) sudah meminta agar para caleg yang juga menjadi pemilik media untuk tetap berimbang dalam menyampaikan informasi, namun pada kenyataannya tidak ada media yang berimbang. Mereka punya agenda masing-masing demi kepentingan mereka. Seperti yang dilansir dari merdeka.com, pada hari pertama kampanye, sudah ada empat partai yang melanggar peraturan spot iklan kampanye, menurut Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Empat partai tersebut adalah Partai NasDem, Hanura, Golkar dan Gerindra. Ya, sudah sewajarnya ini akan terjadi. Mungkin pengecualian untuk Gerindra karena tidak adanya kepemilikan media televisi.

Pembuka dalam tulisan Eko Ardiyanto dengan judul Iklan Politik vs Berita Politik adalah sebagai berikut:

"Data dari Survei Nielsen Media Research seperti dikutip dari buku Iklan dan Politik (2008) menunjukkan partai politik yang paling banyak beriklan di media massa pada Pemilu Legislatif 2004 muncul sebagai pemenang pemilu."


Hal ini pun ingin diterapkan oleh para caleg di tahun 2014 ini. Jadi, untuk kita sebagai masyarakat tidak kaget lagi dengan apa yang dilakukan para caleg demi memperoleh apa yang mereka inginkan. Padahal para pemilik media ini harus melakukan perizinan penyiaran sebelum bisa menyiarkan konten mereka seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika no 28/P/M.KOMINFO/09/2008 tentang Tata Cara dan Persyaratan Penyelenggaraan Penyiaran. Pada dasarnya frekuensinya masih dalam ranah publik karena masih dimiliki negara. Namun, ketika mendapatkan peringatan dari KPI, mereka terkesan tidak "kapok" dan terus melakukannya. Media yang berimbang sudah sangat sukar ditemukan apalagi ketika semuanya hanyalah menjadi sebuah sarana politik. Semoga, masyarakat lebih cerdas dalam memilih, tidak kepada mereka yang menggunakan tipu daya "pencitraan", namun memang pemimpin yang memiliki citra yang terbentuk dari hati nurani dan kerja kerasnya untuk melayani negeri tercinta ini.

Kamis, 27 Maret 2014

Indonesia Lawak Klub

Indonesia Lawak Klub
Foto:hiburan.kompasiana.com
Buat orang Indonesia pastinya nggak asing lagi dengan judul yang gue buat, tapi buat yang belum pernah nonton acara ini, gue sampaikan rasa kasihan gue yang paling dalam, man...Hahahaa...

Gue nggak pernah review acara televisi sebelumnya, karena memang menurut gue jarang ada acara televisi yang "menggetarkan" hatiku *ehh. Jujur rasanya sudah lama, pantengin acara kesukaan di televisi, nggak masalah dengan iklan yang mensponsori acara tersebut. Kalau boleh jujur acara yang menurut gue oke untuk ditonton dan menambah wawasan, cuman berita. Kebetulan gue anak jurusan jurnalistik, jadi mau nggak mau gue memang harus nonton berita sampai eneg, walaupun berita yang disampaikan berkali-kali mengenai kasus korupsi yang tiada henti di Indonesia. Oh..negara ini... Intinya, gue jarang nonton televisi kecuali berita. Sisanya? Nonton drama Korea atau film dari DVD Player.

Indonesia Lawak Klub adalah acara yang tayang di Trans 7 setiap hari Senin sampai Jumat jam 21.30. Acaranya memang ditayangkan malam, tapi worth to wait. I'm tellin' ya. Acara ini sebenarnya punya konsep mirip acara Indonesia Lawyer's Klub yang ada di Tv One, hanya dibuat komedi. Mereka tetap membahas masalah yang sedang hangat di Indonesia dan membuatnya dalam komedi. Memang terkadang tak ada solusi (sesuai dengan tag line-nya, "Menyelesaikan masalah tanpa solusi")

Gue awalnya juga ogah-ogahan nonton acara ini, tapi ade gue bilang acara ini bikin ngakak. Jujur, gue punya ekspektasi tinggi ketika orang melawak, jadi kalau cuman garing pake "kress..kress" atau yang lebih parah bener-bener nggak lucu tapi dipaksakan alias cuman suara angin doang, gue pasti langsung ganti channel.

Di acara ini yang jadi favorit gue lumayan banyak kalau dipikir-pikir. Cak Lontong, Komeng, Fitrop, si Host sendiri, Denny dan lainnya. Memang nggak semua lucu, tapi orang-orang yang gue sebutin sebelumnya itu pantes buat diperhatikan, walaupun kadang juga jayus. Yah, minimal nggak jayus-jayus banget lah acaranya. Kalau misal favorit banget sebanget-bangetnya, I have to say, Cak Lontong. Kenapa? Tontonlah ILK, nak....Hahahahaha, Gue yakin yang udah nonton, pasti nggangguk-nggangguk kayak patung kucing yang ada di toko-toko buat narik tamu. Cuman bedanya dia tangan, kita kepala. Dia salah satu pelawak yang pintar menurut gw, berkelas. *Asik

Cuman nggak hanya itu aja, kalau misal dilihat dari skrip, gw harus kasih pujian karena yang buat skrip bener-bener pakai riset walaupun emang kadang diputer-puter doang dan nggak ada isinya. Riset yang kelihatan "beneran" emang cuman pas si notulen menyimpulkan semuanya. Jadi, minimal ada sesuatu yang bisa kita ambil dari topik tersebut dan juga perut lo sakit karena bahagia. Jarang-jarang kan perut sakit tapi karena bahagia kebanyakan ketawa.

Acara ini memang tidak bermanfaat, namun minimal gue masih bisa tertawa di sini dengan lepas dan tidak terjadi di acara lainnya. Minimal...Sekali lagi...Minimal. Kalau misal ada dari kalian yang tidak suka dengan acara ini, well, semua orang punya opini.

Gue saranin banget kalian cek episode "Biro Jodoh" di bawah ini. Video ini gue ambil dari akun youtube,  89939893116992c dan Salam Lemper... :P


Jumat, 14 Maret 2014

Review: Let's Eat

Let's Eat
Let's Eat (Korean Drama)

Director: Park Joon Hwa
Airing in: TvN
Episodes: 16
Genre: Romantic, comedy
Cast: Lee Soo Kyeong as Lee Soo Kyeong
        Yoon Doo Joon as Goo Dae Young
        Yoon Soo Hee as Yoon Jin Yi
        Sim Hyeong Tak as Kim Hak Moon




Well, first of all, I don't wanna' lie. I'm one of a B2ST fan, so when I found out Doo Joon will appear in a drama, I went crazy. Totally. You know when there's no news about your favourite idol to comeback, as a fans you will check on their activities, like playing drama or being in a variety show. So, it's normal and we're really cool, waiting for their comeback. That's the reason why I started to watch this drama.

To be honest, I like TvN drama because it brings a lot of good actors and actress, but somehow I find it kinda' boring to watch it. It can be the story or the OST, but it changes when I watch this drama. This drama want to show you the "heaven" of food and when you eat it, it's like paradise in your mouth. This is the main thing of the story. Just to watch this people eat delicious food and you'll feel like, "F! This is not fair!" The actors and actress really make you jealous to the max point. So, beware, I already reminded it...Hahaha

Beside the food, in my opinion, the story is interesting. Lee Soo Kyeong is a divorced woman, enyoy to eat (her expression is priceless) and work in a lawyer firm. Goo Dae Young is the "king of insurance" and known as Mr. Shiksa, the food blogger that Soo Kyeong adore so much. Yoon Jin Yi is one of a rich kid but turned to live in the apartment (with Soo Kyeong and Dae Youmg) because of his father case. I realy like her tagline, "Jang, jang man~" It's really funny.

Like other Korean drama, it's a square love. Soo Kyeong and Dae Young will become a couple, Jin Yi like Dae Young and Hyeong Tak like Soo Kyeong, but the script writer makes a good story and many twist in it. Like Soo Kyeong thinks Dae Young is a bad guy for the assault case around the apartment, Hyeong Tak is in love with Soo Kyeong for ten years, Soo Kyeong Mom trade her daughter to Dae Young and Gwang Seok, the delivery guy have a revenge to Jin Yi. WAIT!! WHO IS GWANG SEOK?

Girls...I present you the delivery guy, Gwang Seok...


I know, I know...Calm down ladies. It is Feeldog.... KYAAAAAAA!!!!  I was surprised when I see Feeldog is the delivery guy. He's so cute. What is really interesting is first of all, I don't know he has a revenge to Jin Yi, because of Jin Yi's father. The script writer carefully makes you confused and the same time makes you curious about this guy until the ending. Like who is this guy, he's really nice to Jin Yi, but somehow you think he is the bad guy for the assault case and voila! He had a revenge on her. So, two thumbs up for the script writer.

But, eventhough Doo Joon is the leader of B2ST, he is NOT my favourite character. Who? Feeldog? No ladies, please..Don't know? Do you really need to ask? Duh, of course, it's this guy...

Barassi
He's so adorable! I really enyoy watch this dog. He's really smart. But, of course the other cast is really a good actor and actress. Oh yeah, don't forget the main point of the story. The F***IN' FOOD.


This is my favourite from the entire episodes. I was like, "God, why...How can I find this thing in Indonesia. It's not fair." You know, I watched this episode online on Saturday morning, without had any breakfast before. So, for you guys out there, who is really curious about this drama, MAKE SURE...one more time, MAKE SURE, you had breakfast if it's in the morning, before watch this drama. I say it like I mean it, people. Hahaha...

If I can give a score to this drama it will be 9/10. Why? Because I don't see Gwang Seok and Jin Yi become a couple, lol, but I saw in internet, TvN will air the special episode next week, so let's see if it's can be 10/10. Haha. Final statement, love the drama, love the story, love the food, and love the cast, so I really RECOMMENDED  this drama to be watched by you.

Source: Hancinema.net
            Onehallyu.com


Senin, 27 Januari 2014

Masa Kecil

Pagi ini gue bangun dan entah kenapa hal pertama kali yang pengen gue lakuin adalah nonton TV. Mungkin karena ada K-Wave di MTV Asia kalau jam 9 pagi. Sayangnya, gue telat setengah jam dan gue mulai bingung mau nonton apa.

Gue pun ganti-ganti channel sampai akhirnya gw buka channel Nickelodeon, yang pastinya buat gue itu channel yang jadul banget. Kenapa nggak? Gue nonton Nickelodeon waktu gue masih SD dan SMP. Gue masih inget sama acara "Legend of the hidden temple" yang waktu gue SD itu lagi "hits" banget. Kalau udah nonton itu acara, yang ada gw anteng abis, kayak dunia tuh kayaknya asik abis. Gw sampai bayangin kalau misalkan gw masuk tim "Green Monkey" tuh kayaknya keren banget. Cari pendant biar gak ditangkep sama penjaga kuilnya. Terus selalu lawan sama "Silver Snake", tim favorit ade gw (entah kenapa episode yang selalu gw tonton, pasti mereka mulu yang masuk final)



Hari ini gw pun menonton Winx Club. Kartun ini termasuk favorit gw waktu kecil. Apalagi dulu favorit gw si Bloom walaupun gw suka sama cowoknya Stella, si Brandon. Waktu gw nonton, tiba-tiba ada scene mereka berubah wujud. Anehnya, kalau dulu gw sangat menantikan saat-saat mereka berubah dan bahkan berharap bisa punya sayap kayak mereka, tapi sekarang gw malah ketawa liat transforming mereka. Ketawa karena merasa gw dulu polos banget dan bisa berharap kayak gitu.

Tapi, setelah itu gw sempet merasa rindu, pengen balik ke masa kecil lagi. Masa di mana nggak ada banyak masalah, kerjaannya main mulu, berimajinasi liar kalau hidup pasti bakal menyenangkan kayak di kartun. Setelah selesai nonton winx bukannya kapok kembali ke realita, malah gw makin jadi nyari film kartun. Akhirnya, gw pun berakhir di channel Cartoon Network yang sedang menyiarkan Tom and Jerry.

Buat gw Tom and Jerry gak ada matinya. Walaupun gw udah sampai hafal semua episodenya, tetep aja gw selalu ketawa lihat kartun yang satu ini. Gw selalu berpihak sama Tom walaupun dia kena sial melulu, nggak tahu aja kenapa.

Tom and Jerry pun kelar, gw masih coba ngintip salah satu channel yang udah lama banget nggak gw buka, Animax. Fairy Tail pun sedang diputar. Gw termasuk yang suka anime walaupun udah segede bagong gini, tapi emang jujur udah jarang banget nonton. Mungkin karena banyak tugas kampus tapi juga nggak dipungkiri karena virus drama Korea. Gw termasuk suka Fairy Tail especially Natsu yang totally lucu menurut gw. Kayaknya kalau nggak ada dia nggak ramai (sebenarnya gw demen aja karakter yang punya rambut merah atau masih saudaraan sama merah..hahahah). Gw aja nggak nyangka udah season 3 aja. Busettt...

Sesuai dugaan gw, tuh kartun bikin gw puas. Ngakak adalah obat yang paling mujarab di tengah pahitnya hidup #lebay. Rasanya udah lama nggak kayak gini. Wajar aja, semenjak masuk jurnalistik, tugas gw banyak banget, sempet kemarin ada 6 take home test dan gw baru sempet liburan ujian semester. Terkadang gw pengen balik ke masa-masa itu, tapi life goes on dan voila! Tiba-tiba gw udah umur gw udah masuk kepala dua. Gw harus udah mikir tentang magang dan skripsi. Apakah gw akan menyelesaikan kuliah gw 3,5 tahun atau 4? Apakah gw akan bisa bekerja dengan baik setelah keluar dari kuliah? Apakah gw masih bisa menggapai mimpi gw yang tidak sesuai dengan jurusan gw? Apakah nantinya gw akan sukses?

Semakin lo dewasa, semakin banyak pertanyaan yang timbul. Semakin banyak pula keputusan yang harus lo buat, dan itu nggak gampang. Kadang mungkin banyak orang bilang bukan waktunya untuk balik jadi anak kecil, tapi gw rasa terkadang kita butuh untuk kembali ke masa itu walaupun untuk sehari atau bahkan sejam, di mana kita nggak perlu memikirkan banyak hal yang terjadi dalam realita. Kenapa? Jelas, karena dengan kembali mengingat kenangan masa kecil gw, gw pun kembali mengingat apa yang menjadi mimpi gw dan mencoba merasakan kembali semangat untuk menggapai mimpi kita.

Toh, bagaimana pun juga, semuanya berawal dari masa kanak-kanak. Hahahaha...



Minggu, 01 September 2013

Sabtu, 25 Mei 2013

Sunflowers

I want to be like sunflowers. Grow taller and taller, like you can reach the sky. 

Bright and shine especially when the sun appeared, just like a love you accepted from other people to make you standing still.  

Confident with the bold yellow colour, not afraid to be different 
 and,

 when you look at it, you can do nothing but smile, because they give warmness to you.

Kamis, 09 Mei 2013

Yudha Brama Jaya (Tugas Profil Perjalanan)



“Unit 65 dipanaskan! Unit 65!”, ujar laki-laki berkulit sawo matang itu.
“Unit 65, Pak?” Tanya saya kebingungan.
“Iya, 65 itu kode untuk kebakaran. Kalau 66 untuk banjir.”
“Setelah itu disebutkan alamat lokasi kejadian dan ada bunyi sirene panjang. Nguuuunngggg...,” tambahnya memperagakan bunyi sirene jika ada pelaporan kebakaran oleh masyarakat. Laki-laki itu adalah Boediono. Kepala Seksi Kecamatan Cakung ini sudah 15 tahun bekerja di Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana, Kota Administrasi Jakarta Timur.
Jalan Matraman Raya tidak begitu macet siang itu. Pukul sebelas siang di hari Selasa, memungkinkan masyarakat Jakarta sedang melangsungkan akrivitas bekerjanya. Lewat kaca mobil di sebelah kiri saya, mobil-mobil besar yang dominan berwarna merah itu, diparkir rapi walaupun ada beberapa motor para pemadam kebakaran berada di depan mobil-mobil tersebut. Kantor Pemadam Kebakaran di wilayah Jakarta Timur ini sebenarnya terletak di samping sekat-sekat tempat mobil pemadam kebakaran diparkir. Hanya ada dua warna yang menghiasi tembok-tembok sepanjang gedung itu. Warna merah dan biru. “Semua kantor pemadam kebakaran pasti menggunakan warna yang sama,” jelas Boediono sambil meminum kopi hitamnya.


Warna merah melambangkan keberanian atau semangat yang membara, sedangkan biru melambangkan kesetiaan. Dua warna ini juga terlihat pada logo Asosiasi Pemadam Kebakaran Indonesia yang bisa ditemukan ketika Anda berada di area tempat parkir mobil pemadam kebakaran, yang terletak di dekat tiang bendera atau di setiap pintu mobil pemadam kebakaran jenis apapun. Lima kelopak Bunga Wijaya, dua tangkai 19 lidah api, air, selang, kampak, helm menjadi sebuah kesatuan logo dengan dibawahnya persis tertulis, “YUDHA BRAMA JAYA”, yang berarti kemenangan dan keberhasilan dalam perang melawan kebakaran.
Untuk pemadam kebakaran sendiri sebenarnya sudah dibentuk pada tahun 1873 pada zaman Hindia Belanda. Peraturan tentang kebakaran sendiri atau yang dikenal dalam bahasa Belanda, Reglement of de Brandweer sudah dikeluarkan pada tanggal 25 Januari 1915. Inilah mengapa pada zaman dahulu, biasanya pemadam kebakaran dipanggil dengan sebutan Brandweer. Selain itu, tanggal 1 Maret 1929 juga menjadi momen penting. Tanda penghargaan dalam bentuk prasasti diserahkan kepada Brandweer Batavia karena sudah menjalankan tugasnya sebagai pemadam kebakaran. Prasasti ini sampai sekarang tersimpan di kantor Dinas Pemadam Kebakaran, Ketapang, Jakarta Pusat. Barulah pada tahun 1969, nama Dinas Pemadam Kebakaran dipakai.
Untuk kantor utama di Jakarta Timur ini tidak terlihat seperti kantor-kantor pada umumnya. Dua lemari pendek yang terbuat dari kayu masing-masing satu di sebelah kiri pintu dan di sebelah kanan pintu. Berkas-berkas dokumen berada di atas lemari kayu di sebelah kiri, sedangkan helm berwarna hitam ditaruh di atas lemari sebelah kanan. Poster film “Si Jago Merah” yang salah satunya dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman, terpampang di tembok berwarna putih tersebut. Dua komputer masing-masing berwarna hitam dan putih juga sudah tidak digunakan. Hanya meja hitam dan sebuah asbak menjadi “teman” bagi para petugas untuk bercerita satu sama lain,berbagai pengalaman mereka.
“Waktu kebakaran di Bursa Efek Jakarta, saya ikut menangani,” kata Boediono. Sampai di sana, banyak orang di luar,” lanjutnya lagi. Bom yang terjadi pada tanggal 13 September 2000 itu menewaskan 15 orang, sepuluh di antaranya karena kesulitan bernapas. “Saya sempat takut juga karena penyebab kebakaran adalah bom,” kata laki-laki lulusan Intitut Pertanian Bogor ini. “Bisa saja ada bahan kimia yang berbahaya,” tambah laki-laki yang orang tuanya  juga seorang pemadam kebakaran.
“Saya juga pernah menyelamatkan seseorang yang terjatuh di sumur.” Di dalam sumur bisa saja tidak adanya oksigen, sehingga masyarakat dihimbau untuk tidak langsung menyelamatkan korban. “Terkadang ada saja orang yang mau menyelamatkan, eh..malah jadi nambah korbannya,” tuturnya.
Pekerjaan seorang pemadam kebakaran sebenarnya tidak hanya memadamkan kebakaran. Ikut menanggulangi bencana seperti banjir juga menjadi salah satu tugas mereka. Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Timur pernah menyediakan perahu karet waktu adanya banjir di Jakarta pada tahun 2010. Tidak hanya masalah banjir saja, tetapi semua yang sifatnya mendesak seperti pohon tumbang, seseorang yang terjepit atau bahkan menyelamatkan para hewan peliharaan. “Waktu itu ada kucing gubernur tersangkut di pohon, yah kita yang selamatkan,” kata Boediono sambil tertawa.
Namun tetap saja masalah utama yang sering dihadapi para pemadam kebakaran adalah kebakaran itu sendiri. Seperti dilansir Kompas.com, kebakaran yang terjadi di Jakarta pada tahun 2012 mencapai 1.008 kejadian dengan Jakarta Timur lebih “unggul” dibanding yang lain sebanyak 285 kali kejadian. Penyebab utama terbesar adalah korsleting listrik. Hal ini dibenarkan oleh Boediono. “Ini semua karena standar keselamatan pada sebuah bangunan tingkat tinggi tidak diketahui pemilik atau gara-gara masalah kecil.” Terkadang bahan-bahan yang ada di gedung tersebut mudah terbakar atau masalah seperti penggunaan tusuk kontak secara bertumpuk. “Biasanya kita panggil pemilik perusahaan jika tidak sesuai standar,” tambah laki-laki kelahiran Jakarta tersebut.
Bagi seorang pemadam kebakaran, mobil pemadam kebakaran adalah “sahabat sejatinya”. Setiap mobil memiliki jenis yang berbeda-beda. Saya pun berjalan-jalan ke area parkir untuk melihat lebih dekat. Ada mobil yang hanya berisi air saja, foam saja, kipas angin untuk menghilangkan asap atau alat pemadamnya saja. Setiap mobil memiliki kode sendiri yang ditulis di pintu setiap mobil, seperti T 01-02 atau T 09-01 dengan warna kuning.
Di mobil kode T 01-02, ada empat saluran yang bisa dipasang dengan selang, selain itu adanya pegangan untuk mengatur seberapa besar air yang keluar. T 01-02 dapat menampung 4000 liter air. Di sekat paling kanan, terdapat mobil dengan kode 563, tidak ada perbedaan warna dengan mobil sebelumnya, namun tangga berwarna putih yang bisa mencapai 24 meter itu berada di atasnya. Lain lagi dengan kode 508, bagian mobil ini dilengkapi dengan kotak besar yang berisikan pasokan air tambahan.
Saya pun berjalan ke belakang melewati kantor utama. Di sebelah kanan persis pintu kantor utama, ada sebuah majalah dinding yang ditempel kertas berwarna-warni berisikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan para petugas seperti lomba-lomba dan ajakan untuk olahraga bersama. Dua orang petugas dengan seragam berwarna biru sedang menikmati acara televisi dan lainnya sedang bermain catur. Di area belakang, mobil-mobil pemadam kebakaran lainnya sedang dicuci, Ada juga yang menikmati makan siangnya di warung-warung kecil di depan gedung. Sekitar 450 orang bekerja menjadi pemadam kebakaran untuk wilayah Jakarta Timur dan mereka tahu bahwa menjadi pemadam kebakaran bukanlah hal mudah.
“Pemadam kebakaran itu kerja sosial dan taruhannya nyawa,” ujar Boediono. Boediono tahu bekerja menjadi pemadam kebakaran bukanlah pekerjaan yang bisa memberikan penghasilan tinggi. “Gaji saya tidak seberapa dengan pekerjaannya. Kakak saya pernah di sini, tapi dia keluar. Tidak tahan,” kata laki-laki yang memiliki dua orang anak ini.
 Belum lagi masalah, masyarakat yang terkadang selalu merasa tidak puas karena keterlambatan pemadam kebakaran. Di Jakarta yang sudah terkenal dengan kemacetannya tentu saja bukanlah hal mudah untuk mencapai lokasi kebakaran dengan cepat. “Kami selalu mencoba untuk datang lebih cepat. Target kami sepuluh sampai lima belas menit dalam perjalanan.” Wilayah Jakarta Timur menyediakan 24 pos untuk mempermudah para petugas datang ke lokasi lebih cepat.
Selain itu, seorang petugas pemadam kebakaran bekerja selama 24 jam dan mendapatkan hari kosong selama dua hari setelah bertugas. “Sempat capek, tapi itu kan pekerjaan kita,” kata Boediono. “Kadang baru mau mandi, eh ada kebakaran lagi,” tambahnya. Namun, mereka mengemban tugas ini dengan serius. Bagi mereka kebakaran adalah hal yang sangat berbahaya sehingga dibutuhkan konsentrasi yang tinggi.
Tinnnn! Tinnn! Suara klakson mobil terdengar di jalan raya, namun tidak ada suara “nguunnnnggg” dari sirene seperti yang diperagakan Boediono. Para petugas bersantai, menikmati hiburannya masing-masing, tetapi siapa yang tahu. Jam selanjutnya, menit selanjutnya atau detik selanjutnya, mereka semua akan mengenakan helm putih dan jaket oranye, bersama dengan “sahabat sejati” mereka, sang mobil pemadam kebakaran, melaksanakan makna dari warna cat tembok yang bukan sekedar warna, mempertaruhkan nyawa untuk melayani masyarakat karena sebuah kode “65”.
Zerica Estefania Surya/11140110026/C