Tampilkan postingan dengan label Corat-coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corat-coret. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Januari 2015

Mimpi Buruk Itu Biasa Dipanggil "Skripsi"

Skripsi, skripsi dan skripsi. Itulah kata yang paling menyeramkan buat anak kuliah di semester "sepuh" atau semester tujuh sampai delapan yang emang ambil mata kuliah skripsi. Mungkin ada perbedaan di kampus gw dengan kampus lainnya. Gw bisa mengambil mata kuliah skripsi di semester tujuh tanpa harus mengambil mata kuliah magang terlebih dahulu. So, gw pun memutuskan untuk mengambil mata kuliah skripsi di semester tujuh ini. Gw pun berpikir untuk mengambil skripsi terlebih dahulu dengan alasan untuk menuntaskan segala sesuatu yang masih berkutat dengan "pergi ke kampus". Yah, walaupun gw pasti harus bimbingan magang juga nantinya yang harus menuntut gw ke kampus, tapi minimal gw akan berada di luar kampus untuk waktu yang lama.

Itu hanyalah salah satu alasan gw. Alasan lainnya yang gw denger dari senior, kalau lo ambil skripsi dulu, setidaknya magang nggak akan "membutakan" dunia lo. Kenapa? Biasanya ketika kita sudah mencoba "bekerja" secara real, kita akan mulai keasyikan dan merasa lebih enak magang dibandingkan menyelesaikan skripsi. Padahal skripsi juga menjadi salah satu syarat lo lulus di kampus. Habis itu, kemungkinan kedua, ketika lo udah ambil skripsi duluan dan tinggal magang, siapa tau lo ditawarin untuk lanjut kerja, lo bisa langsung bisa ambil tanpa harus terbebani untuk menyelesaikan skripsi.

Cuman gak enaknya yah jadinya empat tahun. Kalau di kampus gw, kalau lo kuat iman dan mental untuk lulus 3,5 tahun juga diperbolehkan. Cuman gw tau, gw orang yang lebih suka fokus ke satu masalah dulu baru ke masalah yang lain. Masalahnya bebannya berat juga. Kalau untuk tugas kampus di semester yang lalu mau setiap minggu ada tugas untuk setiap mata kuliah yang berbeda, tapi gw sangat yakin untuk mengerjakannya. Tapi, kalau dua mata kuliah ini, lebih ke masalah lulus atau tidak lulus kuliah lo. Jadi, gw hanya memutuskan untuk mengambil skripsi aja.

Sumber: rommikaestria.com
Gw pun bahkan gak menyangka kalau gw udah harus buat skripsi aja. Dan kesuraman pun mulai bergentayangan di benak gw untuk menyelesaikan mata kuliah 6 SKS ini. Namun, setelah berhasil membuat skripsi dalam waktu empat bulan dan dinyatakan lulus (walaupun saat ini masih harus revisi dan pastinya mager banget), gw pun dapat menyatakan membuat skripsi itu mudah ASAL lo punya 5 poin penting ini.

1. Topik yang Kece

This is the key for everything. Kalau lo gak punya topik yang kece buat lo skripsiin. Wasalam.... Bahkan topik yang kece sekalipun belum tentu bisa diterima hanya karena teman lo lebih cepat ambil topik yang sama dengan lo. Ini terjadi di jurusan gw, jurnalistik. Apalagi yang ambil metode framing bisa nangis darah kali mereka. Contoh, kasus JIS yang waktu itu ngetrend banget untuk dijadiin "mangsa" buat bahan skripsi. Inget sob, yang kuliah bukan lo doang satu-satunya. Jadi, bersiaplah untuk bertempur adu cepat dengan teman-teman lo.

2. Referensi yang Memadai

Coy, kalau lo gak punya referensi, gw yakin 100 persen lo bakal bingung mau nulis apa di skripsi lo. Apalagi pasti lo keder liat skripsi senior yang tebal-tebal dan lo sampai bingung mereka menulis apa di sana. Tapi, gw pun merasakan hal yang sama karena memang referensi itu penting banget. Apalagi buat metode yang gw pakai yaitu semiotika. Setiap tanda yang gw analisis harus ada referensinya, jadi bisa dibayangkan berapa referensi yang harus gw cari. Kalau lo gak punya referensi, apalagi lo hanya menulis sesuatu yang berdasarkan pandangan lo juga tanpa didukung referensi, maka bersiaplah dalam sidang untuk "berdiskusi" menurut dospem gw, yang gw artikan sebagai "pembantaian".

3. Mental Anti Badai

Kalau lo mau skripsi lo berhasil, lo harus punya mental yang kalau menurut gw bahkan lebih dari bulu mata anti badai punya mba Syahrini. Gw inget pertama kali gw bimbingan dan menyampaikan judul gw, dospem gw bahkan udah memutuskan harapan gw saat itu juga. Gw masih inget percakapannya.

Dospem: "Oh Zerica, masuk-masuk"
Gw: (masuk ruangan dospem)
Dospem: "Jadi, apa judul kamu, Zer?"
Gw: "Oh, Representasi..."
Dospem: "Oh, semiotika yah. Hati-hati gagal yah."

Setelah itu dospem gw mulai menjelaskan banyak senior gw yang sebenernya buatnya nggak serius dengan menggunakan metode yang satu ini. Oh well. Nggak hanya itu. Gw inget banget gw harus revisi latar belakang masalah sampai lima kali! Bayangin, hanya latar belakang masalah harus lima kali! Gw udeh merinding disko aja dengan apa yang harus gw lakukan dengan bab-bab selanjutnya. Bahkan, dospem gw sempet ngomong, "Aduh, Zer. Masa masih latar belakang masalah, bapak udah mulai bosan nih." Jleb to the max. So, mental anti badai akan sangat membantu lo melewati masa-masa "indah" ini.

4. R-A-J-I-N

Kenapa gw menggunakan huruf kapital dan mengeja di sini. Bukan karena gw alay (padahal masih), tapi hal ini yang akan membuat lo cepat selesai dengan skripsi lo dan membuat nilai plus di mata dospem lo. Lo harus punya target kapan waktu ngerjain dan kapan lo mau selesain skripsi lo. Semakin diri lo rajin untuk bimbingan, percaya sama gw dospem lo bakal seneng banget kalau lo bimbingan. Itu memperlihatkan kepada mereka bahwa lo niat skripsi. Tapi, rajin di sini pun bukan berarti lo harus forsir dengan setiap hari lo kerjain skripsi. Kalau lo melakukan itu, hanya ada dua kemungkinan hal yang bisa terjadi. Pertama, skripsi lo bakal sukses karena emang lo emang niat meneliti dari awal dan berharap skripsi lo fabulous. Kayak lo emang punya jiwa peneliti. Atau lo akan berakhir dengan kejang-kejang dan harus masuk rumah sakit karena brain freeze.

Hal yang bakal buat bete lo pasti adalah revisi. Ketika lo belum menuju bab selanjutnya dan masih stuck di situ. Yang penting lo harus punya rencana, kapan lo mau relax dan mau lanjutin skripsi lo. Yang pasti jangan kelamaan relax juga, karena pastinya bab-bab selanjutnya akan lebih menantang untuk lo selesaikan.

5. Hoki

Kalau teman lo menyemangati lo dengan mengatakan "Wish You Luck". Guys, they really mean it. Mereka gak sekedar mengucapkan hanya untuk menyemangati lo, tapi mereka memang berharap lo memiliki hoki ketika lo menuju sidang. Sebagai rekan seperjuangan, mereka juga berharap itu terjadi pada mereka juga. Ini faktor yang bisa lo dapetin kalau Tuhan mengizinkan dan membuat lo lulus dengan baik. Hoki dalam menemukan referensi yang sulit, menemukan topik yang tepat, sampai hoki dengan siapa yang akan menjadi dosen penguji lo di sidang. Di kampus gw, entah kenapa, kita gak bakal tau siapa dosen penguji kita sampai hari "penantian" tiba. Hal ini yang bikin lo deg"an sampai mampus menebak siapa dosen yang akan menguji lo. Kalau lo gak mendapatkan kombinasi yang tepat, maka alhasil akan banyak emosi yang keluar mulai dari bete, nangis, bahkan marah.

Tapi, overall kalau lo berdoa dan berusaha skripsi pun bakal lewat juga. Yang penting lo harus percaya diri dan selalu berusaha yang terbaik karena pada akhirnya lo yang membuat skripsi itu, jadi nggak perlu takut waktu sidang (padahal gw ampe setengah sadar di dalam ruang sidang..haha). Kalau lo melakukan empat poin utama yang sudah gw sebutin di atas (kalau tambah poin kelima diberkatilah engkau), niscaya skripsi lo bakal berjalan dengan lancar.

Jadi, buat kalian semua yang akan atau sedang menjalani masa skripsi, TABAHLAH dan masa itu pun juga akan berlalu. Good Luck! (And you know I really mean that).


Jumat, 28 Maret 2014

Ketika Media Televisi Hanyalah Sebuah Sarana Politik

Tahun 2014 pastinya tahun yang sangat penting buat Indonesia. Pesta demokrasi bakal digelar mulai 9 April nanti. Semua calon legislatif partai dan calon presiden sudah mulai berlomba-lomba berkampanye untuk mendapatkan perhatian dari rakyat Indonesia. Kebetulan ini adalah pertama kalinya saya akan memilih presiden Indonesia. Jujur, saya bukan termasuk orang yang menyukai politik karena menurut saya, politik adalah salah satu bidang yang... memusingkan. Cuman untuk seorang anak jurusan jurnalistik, kita memang dituntut tetap update dengan masalah yang terjadi di berbagai bidang, baik di dalam negeri dan luar negeri.

Setelah banyak belajar mengenai media, hal yang paling bisa terlihat bahwa teori-teori yang saya pelajari itu memang benar adalah pada momen-momen semua partai berlomba-lomba kampanye di sana-sini. Kekuasaan sang pemilik media sangat kental terlihat mulai dari iklan yang ditampilkan dalam media ataupun dari pemberitaan mengenai partai si pemilik media tersebut. Bahkan ada yang lebih kreatif, berperan dalam sebuah sinetron. Seperti yang dikutip dari antaranews.com, KPU (Komisi Pemilihan Umum) sudah meminta agar para caleg yang juga menjadi pemilik media untuk tetap berimbang dalam menyampaikan informasi, namun pada kenyataannya tidak ada media yang berimbang. Mereka punya agenda masing-masing demi kepentingan mereka. Seperti yang dilansir dari merdeka.com, pada hari pertama kampanye, sudah ada empat partai yang melanggar peraturan spot iklan kampanye, menurut Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Empat partai tersebut adalah Partai NasDem, Hanura, Golkar dan Gerindra. Ya, sudah sewajarnya ini akan terjadi. Mungkin pengecualian untuk Gerindra karena tidak adanya kepemilikan media televisi.

Pembuka dalam tulisan Eko Ardiyanto dengan judul Iklan Politik vs Berita Politik adalah sebagai berikut:

"Data dari Survei Nielsen Media Research seperti dikutip dari buku Iklan dan Politik (2008) menunjukkan partai politik yang paling banyak beriklan di media massa pada Pemilu Legislatif 2004 muncul sebagai pemenang pemilu."


Hal ini pun ingin diterapkan oleh para caleg di tahun 2014 ini. Jadi, untuk kita sebagai masyarakat tidak kaget lagi dengan apa yang dilakukan para caleg demi memperoleh apa yang mereka inginkan. Padahal para pemilik media ini harus melakukan perizinan penyiaran sebelum bisa menyiarkan konten mereka seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika no 28/P/M.KOMINFO/09/2008 tentang Tata Cara dan Persyaratan Penyelenggaraan Penyiaran. Pada dasarnya frekuensinya masih dalam ranah publik karena masih dimiliki negara. Namun, ketika mendapatkan peringatan dari KPI, mereka terkesan tidak "kapok" dan terus melakukannya. Media yang berimbang sudah sangat sukar ditemukan apalagi ketika semuanya hanyalah menjadi sebuah sarana politik. Semoga, masyarakat lebih cerdas dalam memilih, tidak kepada mereka yang menggunakan tipu daya "pencitraan", namun memang pemimpin yang memiliki citra yang terbentuk dari hati nurani dan kerja kerasnya untuk melayani negeri tercinta ini.

Kamis, 27 Maret 2014

Indonesia Lawak Klub

Indonesia Lawak Klub
Foto:hiburan.kompasiana.com
Buat orang Indonesia pastinya nggak asing lagi dengan judul yang gue buat, tapi buat yang belum pernah nonton acara ini, gue sampaikan rasa kasihan gue yang paling dalam, man...Hahahaa...

Gue nggak pernah review acara televisi sebelumnya, karena memang menurut gue jarang ada acara televisi yang "menggetarkan" hatiku *ehh. Jujur rasanya sudah lama, pantengin acara kesukaan di televisi, nggak masalah dengan iklan yang mensponsori acara tersebut. Kalau boleh jujur acara yang menurut gue oke untuk ditonton dan menambah wawasan, cuman berita. Kebetulan gue anak jurusan jurnalistik, jadi mau nggak mau gue memang harus nonton berita sampai eneg, walaupun berita yang disampaikan berkali-kali mengenai kasus korupsi yang tiada henti di Indonesia. Oh..negara ini... Intinya, gue jarang nonton televisi kecuali berita. Sisanya? Nonton drama Korea atau film dari DVD Player.

Indonesia Lawak Klub adalah acara yang tayang di Trans 7 setiap hari Senin sampai Jumat jam 21.30. Acaranya memang ditayangkan malam, tapi worth to wait. I'm tellin' ya. Acara ini sebenarnya punya konsep mirip acara Indonesia Lawyer's Klub yang ada di Tv One, hanya dibuat komedi. Mereka tetap membahas masalah yang sedang hangat di Indonesia dan membuatnya dalam komedi. Memang terkadang tak ada solusi (sesuai dengan tag line-nya, "Menyelesaikan masalah tanpa solusi")

Gue awalnya juga ogah-ogahan nonton acara ini, tapi ade gue bilang acara ini bikin ngakak. Jujur, gue punya ekspektasi tinggi ketika orang melawak, jadi kalau cuman garing pake "kress..kress" atau yang lebih parah bener-bener nggak lucu tapi dipaksakan alias cuman suara angin doang, gue pasti langsung ganti channel.

Di acara ini yang jadi favorit gue lumayan banyak kalau dipikir-pikir. Cak Lontong, Komeng, Fitrop, si Host sendiri, Denny dan lainnya. Memang nggak semua lucu, tapi orang-orang yang gue sebutin sebelumnya itu pantes buat diperhatikan, walaupun kadang juga jayus. Yah, minimal nggak jayus-jayus banget lah acaranya. Kalau misal favorit banget sebanget-bangetnya, I have to say, Cak Lontong. Kenapa? Tontonlah ILK, nak....Hahahahaha, Gue yakin yang udah nonton, pasti nggangguk-nggangguk kayak patung kucing yang ada di toko-toko buat narik tamu. Cuman bedanya dia tangan, kita kepala. Dia salah satu pelawak yang pintar menurut gw, berkelas. *Asik

Cuman nggak hanya itu aja, kalau misal dilihat dari skrip, gw harus kasih pujian karena yang buat skrip bener-bener pakai riset walaupun emang kadang diputer-puter doang dan nggak ada isinya. Riset yang kelihatan "beneran" emang cuman pas si notulen menyimpulkan semuanya. Jadi, minimal ada sesuatu yang bisa kita ambil dari topik tersebut dan juga perut lo sakit karena bahagia. Jarang-jarang kan perut sakit tapi karena bahagia kebanyakan ketawa.

Acara ini memang tidak bermanfaat, namun minimal gue masih bisa tertawa di sini dengan lepas dan tidak terjadi di acara lainnya. Minimal...Sekali lagi...Minimal. Kalau misal ada dari kalian yang tidak suka dengan acara ini, well, semua orang punya opini.

Gue saranin banget kalian cek episode "Biro Jodoh" di bawah ini. Video ini gue ambil dari akun youtube,  89939893116992c dan Salam Lemper... :P


Minggu, 01 September 2013

Sabtu, 25 Mei 2013

Sunflowers

I want to be like sunflowers. Grow taller and taller, like you can reach the sky. 

Bright and shine especially when the sun appeared, just like a love you accepted from other people to make you standing still.  

Confident with the bold yellow colour, not afraid to be different 
 and,

 when you look at it, you can do nothing but smile, because they give warmness to you.

Rabu, 20 Maret 2013

Bermain Tak Mengenal Zaman (Tugas Penulisan Feature Kedua)



Apa yang Anda lakukan ketika Anda merasa bosan waktu kecil? Rasanya tidak sabar untuk pulang sekolah dan bertemu teman-teman. Pergi ke lapangan sambil membawa bola sepak atau bertemu dengan barbie tercinta di rumah. Apa pun macamnya, semuanya itu merujuk pada satu hal. Ya, apalagi kalau bukan bermain. Setiap orang memiliki masa kecil yang berbeda dan memainkan permainan yang berbeda, namun mereka melakukan hal yang menyenangkan ini dengan cara mereka sendiri.
Olinda mengunyah nasi putih yang ia santap bersama tumis sawi hijau yang dibuatnya. Ia mengerutkan dahinya, mengingat kembali masa kecilnya. “Waktu saya umur 15 tahun, saya sering main congklak,” kata perempuan yang berusia 55 tahun ini. Congklak yang ia maksud bukan dari plastik atau kayu yang ada di zaman sekarang. “Kita buat sendiri dari tanah. Buat lubang terus main pakai batu kecil.” Waktu ia kecil, ia bermain dengan Sudit, Nuisa, Abusta dan Susepa, teman-temannya.
Olinda
“Dulu, kita juga sering main bombakeru.” Bombakeru adalah sejenis permainan “ular naga” di mana anak-anak berbaris panjang menyerupai tubuh naga yang panjang dan dengan diiringi lagu, mereka berjalan dan berputar sampai lagu habis. Kemudian, dua anak yang berhadapan untuk membuat terowongan “si naga” bisa menangkap salah satu anak. Bedanya istilah ini populer di daerah Timor Leste. Di masa kecil perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga itu, boneka sudah ada, namun jarang sekali. Hanya toko milik warga Tionghoa yang menyediakan, itu pun sangat sedikit dan mahal. “Mending buat makan duitnya,” tuturnya.
Lain halnya dengan pengalaman Hironimus Alo Bua. Laki-laki yang biasa disapa Roni ini, bermain bola pada masa kecilnya. “Paling asik. Kalau hujan lanjut terus,” katanya sambil tertawa. Sambil mengelus seekor anjing chihuahua hitam berkepala coklat di garasi berlantai putih, ia mulai memikirkan nama teman-teman yang biasa ia ajak main. “Ada Tomas, Niko, sama Sondy.” Kalau sudah sore, mereka berempat pasti langsung pergi ke lapangan kosong dekat sekolah. “Kadang main bola.Pernah bukannya nendang bola malah nendang batu,” sambil menunjukkan kuku kelingking kaki kirinya yang hilang.
“Atau nggak, kita biasa main Santo,” lanjut laki-laki yang berkulit sawo matang dan menggunakan baju garis-garis biru itu. Permainan Santo dalam istilah Toraja adalah permainan melempar batu dengan kaki menuju batu-batu yang sudah ditumpuk di belakang sebuah garis. “Kadang orang tua suka ngomel, soalnya kerjaan belum beres tapi udah kabur main.”
Benny Surya yang bekerja sebagai salah satu pegawai supplier makanan tentara, di sebuah perusahaan swasta , juga sering kena marah oleh orang tuanya karena kebanyakan main. “Gara-gara main layangan sampai malam.” Ditanya mengenai permainan favorit, bapak dengan tiga orang anak ini menjawab sepak bola adalah permainan yang paling seru. “Saking serunya, sampai bela-belain bangun pagi buat main bola di jalan raya.” Ia membetulkan kacamata  lis hitamnya. “Tapi, cuman pas sahur di bulan puasa, jadi jalanan sepi.”
Kalau anak perempuan di daerahnya waktu itu, mereka senang bermain samse dan bekel. Samse adalah permainan di mana anak perempuan biasanya mengumpulkan bunga, kemudian diikat dan mereka akan melemparnya dengan kaki secara beregu, berharap bunga tidak jatuh. “Mami, juga pernah main bekel,” kata ibu saya, Celia Vide. Perempuan berambut pendek ini langsung pergi mengambil batu-batu di depan rumah dan membawanya ke kamarnya. Ia mengenggam delapan batu coklat dan melempar satu batu ke atas. Matanya tetap menuju batu yang berada di udara dan menyebarkan sisa batu yang ada di tangan kanannya itu. “Nih yah, lihat.” Perempuan yang memiliki tato berbentuk bunga di kakinya, melemparkan batu yang sudah ia tangkap sebelumnya, dan mengambil satu batu yang tadinya sudah disebar. “Begitu terus sampai habis, lanjutnya ambil dua-dua.” Permainan ini biasanya dimainkan dengan menggunakan bola bulat kecil yang biasa disebut bola bekel. “Kalau di zaman Mami, belom ada bolanya. Jadi, mainnya kayak gini.”
Carlos Denizio bermain dengan PSP birunya
Namun, permainan tradisional sangat jarang dimainkan oleh Carlos Denizio yang masih duduk di kelas lima SD Pahoa, Gading Serpong ini. “Jarang banget. Temenku yang perempuan juga nggak main. Paling petak umpet,” katanya yang mengenakan kaus kutang berwarna putih dan celana merah. Pengaruh teknologi permainan yang ada dan juga pengaruh dari teman-temannya sangat dirasakan Deniz. “Kalau kita main petak umpet nih ya, pasti ada yang bilang “Jadul! Jadul!” gitu,” ujarnya sambil memegang Playstation Portable-nya yang berwarna biru, atau yang lebih dikenal sebagai PSP.
“Main Playstation yang paling asik. Soalnya seru, ada tokohnya. Bisa jalan lagi,” ujar laki-laki yang juga lebih memilih bermain dengan iPad dan game online. Walaupun begitu, menurutnya bermain dengan teman-teman yang “ada” lebih seru dibandingkan bermain lewat internet. Hal serupa juga disampaikan oleh Jose Vide. “Walaupun udah ada video game waktu itu, tapi saya lebih memilih bermain bola di lapangan bersama teman-teman,” kata laki-laki yang berusia 25 tahun itu.
Jika dibandingkan dengan teknologi permainan sekarang, Benny lebih memilih permainan yang ia mainkan dulu. “Lebih asik rame-rame. Udah gitu mainan pun kita buat sendiri. Kalau sekarang, banyakan anak-anak main, tapi sendirian aja di kamar.” Ia pernah membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali dan ia mainkan bersama teman-teman SD-nya.
Roni yang pernah memainkan playstation sebelumnya juga tetap memilih bermain sepak bola di lapangan dengan keringat mengucur. “Biasa aja. ‘Rasa’-nya beda aja,” katanya sambil mengangkat kedua bahunya. Untuk Lissa Christie yang sedang duduk di kelas tiga SMA Tarakanita, Gading Serpong, bermain dengan menggunakan “mesin” dan bermain dengan barbie kesayangannya memiliki daya tarik masing-masing.
Bagi perempuan berambut ombak panjang ini, bermain dengan playstation seru karena adanya grafis, gambar yang ditampilkan lewat televisi. Hal itu yang membuat playstation menarik menurutnya. Walaupun boneka Barbie yang ia koleksi, sudah banyak disumbangkan, namun terkadang jika mengingatnya kembali, ada perasaan menyesal dan rindu akan boneka yang berbentuk manusia itu. “Gue dulu lebih sering main sendiri di rumah sama Barbie gue. Jadi, kangen aja kalau ingat lagi.”
Apa pun permainan yang dimainkan dan apa pun benda yang digunakan, mereka semua tertawa dan tersenyum menceritakan kembali masa kecilnya. Mau dari manapun mereka berasal, dan dari era manapun mereka, bermain masuk ke dalam kenangan mereka dan hal tersebut tidak tergantikan. Jadi, bagaimana dengan Anda?

Zerica Estefania Surya/11140110026

Rabu, 27 Februari 2013

"Kwaheri The Vulture" (Tugas Penulisan Feature)



Kwaheriiii tha volcha!!” Laki-laki berkulit gelap itu berseru dengan suara lantang. Mungkin kita tidak mengerti apa maksud dari perkataan laki-laki, yang menggunakan baju berwarna hijau dan penutup kepala hitam itu. Namun, tidak demikian dengan para warga Kenya yang tergabung dalam Ballot Revolution. Ya, ia tidak sendirian. Sambil membawa banyak peti mati berwarna hitam dengan tulisan “Burry The Vulture With Your Vote” di atasnya, para warga dari salah satu negara di Afrika Timur itu berjalan menuju gedung parlemen. Mereka bernyanyi,  mengangkat bendera kecil yang berwarna dominan hijau, merah dan hitam itu, menyiratkan keinginan adanya keadilan terhadap negara mereka. Seorang anak kecil juga terlihat ikut berjalan sambil membawa pesan yang bertuliskan “LEADERS MUST PAY TAXES” berwarna merah. Mereka terus berjalan, bersiul dan meneriakkan aspirasi mereka.
Boniface Mwangi, seorang jurnalis foto asal Kenya adalah sosok yang berada di balik Ballot Revolution ini. Laki-laki yang berkulit gelap ini beserta rekan-rekannya mencoba untuk menyampaikan aspirasi mereka lewat graffiti atau street art. “Kenya adalah salah satu negara yang terindah di dunia, tetapi orang Kenya sendiri adalah pengecut,” katanya dalam perjalanan menuju Central Nairobi dengan menggunakan mobil.
“Kami banyak mengeluh mengenai korupsi, kebebasan hukum, pengambilan tanah secara paksa, tetapi kami tidak berbuat apa-apa”, lanjutnya. Hal inilah yang menyebabkan ia dan teman-temannya untuk keluar dari zona aman dan mengungkap kebenaran.
Pukul sepuluh malam sesampainya di sana, mereka menyiapkan lampu, menyalakan layar proyektor dan menampilkan beberapa gambar. Mereka selain Boniface,  menggunakan piloks untuk menggambar outline sesuai dengan gambar yang dikeluarkan proyektor. Para anggota parlemen disimbolkan dengan seekor burung bangkai yang duduk di sebuah kursi layaknya raja, yang tangan kanannya dirantai dengan koper yang berisikan uang dan tangan kirinya memegang cangkir yang mengeluarkan asap. Senyum licik tergambar di wajah burung berparuh besar itu dan di sebelah kiri kepalanya persis ditulis pemikirannya dengan huruf kapital. “Am a tribal leader. They loot, rape, burn, and kill in my defence. I steal their taxes, grab land, but the idiots will still vote for me”.
“Inti dari ide ini untuk membangun kembali pemikiran masyarakat khususnya, anak muda,” kata Uhuru, salah satu seniman graffiti. Mereka semua berhasil melakukan aksi ini tanpa mendapatkan perhatian dari polisi. Boniface yang malam itu menggunakan topi rajut putih, kemeja garis-garis berwarna hijau lumut dipadu dengan jaket hitam, meloncat  kegirangan sambil tersenyum lebar melihat gambar-gambar yang telah diselesaikan teman-temannya.
“Kau tahu, aku akan datang besok pagi sekitar jam sepuluh untuk melihat hasilnya,” katanya.
“Semua orang akan bangun dan melihat karya seni ini menghantam mereka tepat di wajah mereka,” kata Bankslave, salah satu seniman graffiti lainnya. Langit gelap yang menandakan malam akhirnya berubah menjadi terang kembali. Pukul tujuh pagi keesokan harinya, aktivitas kembali seperti biasa. Mobil-mobil putih berlalu-lalang di jalan, seorang laki-laki berbaju kotak-kotak dengan celana panjang menarik tabung-tabung berwarna kuning yang sudah diikat pada sebuah besi beroda. Namun, hari itu banyak orang yang berhenti untuk menatap hasil karya yang telah dibuat Boniface dengan teman-temannya, malam sebelumnya. Ada yang menatap kebingungan, ada juga yang tertawa.
“Tetapi, orang idiot itu tetap memilihku. Kita adalah orang idiot itu,” respon salah satu laki-laki sambil tertawa. Seminggu kemudian, apa yang dilakukan Boniface dan teman-temannya menjadi berita nasional dan polisi pun berusaha mencari pelakunya. Beberapa politisi bahkan sempat mendatangi laki-laki yang tinggal di Nairobi ini untuk mengajaknya bekerja sama, dan mau memberikannya uang, namun hal itu ditolak olehnya. Ancaman pun muncul, beberapa hari setelahnya, ia dipanggil oleh polisi. Laki-laki yang sudah memiliki anak ini, mengumpulkan teman-temannya lewat online untuk datang ke kantor polisi. Tidak lama kemudian, ia pun bebas.
Pada Desember,2007, Pihak oposisi yang merasa jabatan presiden direbut oleh Mwai Kibaki mengakibatkan terjadinya kekerasan etnis. Antar masyarakat saling melempar batu, korban berjatuhan, rumah-rumah dibakar. Seorang wanita berbaju biru muda hanya bisa menangis, meratapi apa yang terjadi. 1.100 orang terbunuh dan sampai 600.00 orang terlantar akibat kekerasan itu. Boniface yang waktu itu meliput akhirnya membuat sebuah pameran foto di jalanan atau yang ia sebut Picha Mtaani.
Banyak orang yang melihat hasil karyanya, bahkan di antara orang tersebut ada seorang laki-laki dengan tangan buntung dan menggunakan kemeja berwarna abu-abu, melihat “telapak tangannya” yang masih memegang sebuah sabit kecil dari besi di atas sebuah batu dan sempat diabadikan oleh sang fotografer. Ada yang terkejut, ada yang menangis mengingat masa lalu yang kelam itu. Di kota Naivasha, Boniface terpaksa menghentikan pamerannya karena adanya orang yang tidak senang dengan apa yang dilakukannya. Hal itulah yang membuat Boniface dan teman-temannya memikirkan kejutan terakhir yaitu peti mati.
“We want justice, now! Now! Now!” Kalimat itu terus diulang-ulang oleh para massa sampai di gedung parlemen. “Thieves! Thieves!” Teriak laki-laki bertubuh besar dengan kaos putih, tepat di depan pagar hitam gedung parlemen. Massa pun tidak terkontrol. Banyak orang berteriak bahkan ada yang melempar peti mati hitam itu ke dalam gedung parlemen. Melihat hal itu, Boniface pun akhirnya turun tangan mengambil alih perhatian mereka.
“Kita akan meninggalkan semua peti mati di depan pagar. Tidak perlu ada kekerasan. Kita akan memperbaikinya dengan hak suara kita.”
“Kita bukan orang kasar dan kita ingin kedamaian dalam Ballot Revolution ini,”lanjutnya lagi. Semua orang mendengarkannya dan mulai menaruh semua peti mati di depan pagar tersebut. Mereka menyusunnya secara vertikal agar tulisan yang ada di atas peti terlihat, ingin suara mereka di dengar.
“Kita datang dengan damai, maka kita juga pulang dengan damai,” kata Boniface yang hari itu menggunakan baju berwarna hitam. Pemilihan umum selanjutnya akan diadakan pada tahun 2013 dan laki-laki dengan rambut tipis itu sadar bahwa apa yang ia lakukan mungkin  sia-sia, tetapi ia tidak ingin kehilangan harapan dan ia tahu doanya akan terjawab cepat atau lambat. Ia sangat berharap sifat dari “burung bangkai” itu hilang. Itulah sebabnya mereka menulis “Bury the Vulture” atau dalam bahasa Swahili, “Kwaheri the vulture”.
 ---------------------------------------------------------------------------------------------------
Tugas Penulisan Feature dari video Kenya Rising, Zerica Estefania Surya

Sabtu, 23 Februari 2013

Robotaki Rocks!

Well, like all you guys know, my favourite boyband is BEAST from Korea. I really love this guys, their appearance, their song, their moves. For me, these guys are a whole package. But, it's not BEAST that I will talk about. I know you all who read this like music no matter what the genre are and I just want to ask you guys a question. Do u ever think about a different styles or version of songs that you like? Shortly, I just wanna say about remix song. Recently, I just found out a good remix from BEAST song. The beat is really nice and just wanna make you dance. So, for me, the remix works and awesome. I like K-Pop so, I just wanna give you some remixes from this guy called Robotaki.


This is a Genie remix with Lady Gaga-Paparazzi and Britney Spears-Toxic.


This is the remix of  Run Devil Run by Girls Generation


This is the remix of Wedding Dress by TaeYang

A lot of the remix is from Girls Generation song and I have to say I'm not really addictive to GG songs but two of them become my favourite... Thanks to him.


It's the remix of visual dream
It's the remix of The Boys

 And now for my favourites of all time...
Bad Girl-Beast


 Shock-Beast

Robotaki, thank you for making such a great remix. I don't know how that beats come out. I think you really nailed it! You just make my body moves...Hahaha...Well done! Oh yeah, and of course I can't wait for your next remixes.

PS: Please make the full version of shock! Subscribe him on YouTube guys, just type Robotaki if you want to see more of his works!

Selasa, 12 Februari 2013

Selasa, 20 November 2012

Love Story


Talent: Fresco- Anjing Gue
© Zerica Estefania Surya, 2012

Sabtu, 27 Oktober 2012

Malu Jadi Orang Indonesia?



Like dan kasih komentar guys..Thank You...;D

Senin, 15 Oktober 2012

10 Air Mata : Bab I



“Hoahmmm,” aku mulai menguap karena pidato kepala sekolah yang mulai membuatku ngantuk. “Hush, Anya jangan gitu donk, baru 15 menit ju…oahmmm.” Aku pun langsung menengok sahabat dari SD ku itu, Regina.
“Geblek-geblek…lain kali kalo mau negur gue mikir-mikir dulu, jeng,” kataku sambil tersenyum. Sebenernya aku pun sudah tidak tahan untuk tertawa melihat kelakuan si Regina. “Bukan gitu, gimana pun juga, kita harus menghormati yang lebih tua,” katanya sok bijak.
“Idih, geli banget. Lo masih bisa ngomong kayak gitu setelah apa yang telah lo lakukan. Ckckckck.”
“Jangan gitu. Gini-gini kita udah jadi anak SMP loh! Gak berasa ya?”
Aku pun menatap langit yang cerah. Ya, pada hari ini aku resmi menjadi anak SMP, tidak lagi menggunakan rok merah, rasanya enam tahun pun tak terasa lama. Seribu tahun aja gak lama kan? Hehe. Dan aku berharap bisa mendapat pengalaman yang indah di sini. Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar, tanda berakhirnya pidato kepala sekolah kami.                                                                             ***
“Wah, Anya kita sekelas lho! Asik ya! Kita akan memulai kisah kita bersama di tempat yang baru.”
“Berarti tahun ini pun adalah tahun sial gue. Lo tau, gue sangat berjuang keras bisa lulus ujian sekolah, coba tahun kemaren lo gak sekelas gue, gue pasti merem aja lulus dah,” kataku sambil nyengir kuda. Aku suka sekali menjahili sahabatku yang satu ini.
“Liat ntar bakal nyesel lo ngomong gitu, lo pasti bakal berterima kasih sama gue di kemudian hari nanti.”
“Apa yang perlu gue sesali? Gue udah sekelas lo satu tahun kok.” Regina pun mulai cemberut karena tidak bisa membalas ucapanku.
“Yaelah, gitu aja ngambek. Yuk, ke kelas. Gue duduk sama lo deh.” Regina akhirnya setuju walaupun aku masih bisa melihat senyum kecut di wajahnya.
***
“Alice. Bernard. Cindy.” Bu Clara wali kelas kami sedang mengabsen para murid. Banyak anak baru dari sekolah lain yang tidak kukenal. Aku berharap bisa bergaul dengan mereka semua nantinya.
“Eh, Reg, gak ada yang ganteng nih.”
“Gile lo, belum apa-apa udah ngeliat cowok aja. Aduh apa sih pentingnya cowok-cowok. Mereka tuh nothing.”
“Yah, namanya juga kaum hawa. Daripada gue ngleiatin cewek lebih serem kan? Jangan ngomong gitu, ntar juga pada akhirnya lo bakal punya cowok. Yah, kecuali…”, aku pun mulai memandangnya dengan pandangan risih.
“Gak lah ya! Gila apa lo! Gue normal kali! Cuman menurut gue cowok tuh ga penting. Kalau pun nantinya gue punya cowok, dia tuh pasti cuman mainan. Prinsip gue boys are toys.”
“Zefanya.” Aku pun mengangkat tanganku mendengar namaku dipanggil. Entah kenapa aku tidak membalas Regina. Toh, itu haknya dia punya pendapat seperti apa.
“Mulai besok kalian akan duduk sesuai denah yang telah ibu buat.”
“Yah, ibu…” Terdengar teriakan kekecewaan anak-anak. Yah, maklum lah namanya juga bekas anak SD.
“Dan jangan lupa membawa buku sesuai jadwal yang sudah dibagikan. Itu saja dari saya, silahkan istirahat. Selamat siang”
“Se…la….mat si…ang…,bu….” SD nya keliatan banget. Aku pun mengeluarkan bekal dan mulai makan. Kalau perut sudah memanggil, makanan seperti apa pun pasti membawa berkah.
“Oh ya, Aunyaa…nauntih kitha jualan-juulan yuk?” Terkadang ada rasa juga ingin mengakhiri persahabatan dengan orang ini. Tapi bagaimanapun juga dia selalu baik terhadapku.
“Telen dulu baru ngomong, Reg.”
“Nanti kita jalan-jalan yuk? Gue pengen liat-liat kelas lain”
“Iye, gampang. Makan dulu aja.”
“Eh, ada Anya sama Regina. Kita sekelas ya.” Aku menengok menuju arah suara itu dan ternyata itu suara Jenny. Aku mengenalnya. Dia dulu satu SD denganku dan Regina.
“Iya nih Jen. Lo gak makan?”
“Gue mau minta denah sama si Bu Clara bareng Sasha, lo berdua mau ikut gak?” Aku melirik sedikit ke  arah Sasha. Dulu di SD, kata temen-temen sih dia anaknya centil-centil gitu. Tapi aku tak pernah sekelas dengannya. Jadi, aku tidak tahu apa cerita itu benar atau tidak.
“Ayuo, kitah temuenin, Anyua.”, kata Regina sambil mengunyah makanannya. Aku pun menengok dengan pasrah. Aku memang teman yang baik sepertinya. Kalau tidak mungkin aku tidak akan mau mendekati Regina lagi.
                                       ***
“Gedung sekolah kita gede juga ya.” Mulailah tur wisata kami. “Tapi jauh juga ya mau ke ruang guru. Pake acara lewat kelas kakak senior lagi,” tambah Sasha lagi yang dari tadi mengomentari.
“Sedih juga ya, belom apa-apa udah jadi ketua kelas, Jen.”
“Ya nih, Anya. Gue mulu dah. Kayak gak ada orang lain aja. Lo gitu kek sekali-kali.”
“Aduh, gue  mah gak jadi pengurus kelas aja dipanggil guru mulu. Ada aja buat majalah lah, buat ngurusin ini itulah.”
“Woo, narsis nih ceritanya”
“Yah, abis kenyataan sih. Ngapain coba gue boong. Gue ude kayak anak emasnya para guru.” Dan bisa dibayangkan bagaimana reaksi Jenny yang sudah mengenalku yang narsis ini dari lama.
“Bercanda, Jen. Gue males aja. Paling entar gue mau coba ikut OSIS aja, biar makin eksis.” Jenny, Sasha dan Regina mulai menggerutu akibat kenarsisanku yang makin jadi. Kami semua pun akhirnya tertawa. Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang tidak sengaja menabrak Regina yang berada di paling pinggir.
“Aduh sori, gue buru-buru nih.” Dan ternyata itu adalah Alan.
“Sialan lo kontet!” Tentu saja melihat watak dan kepribadian Regina, murkalah cewek ini.
“Ih, Regina lo jahat banget sih,” kata Sasha.
“Biarin aja emang dia kontet kok!”
“Dia sekelas kita kan? Gue tadi ngliat dia di depan pas upacara.”, kataku.
“Oh ya? Tapi dia emang kecil ya. Lucu,” tambah Jenny.
“Sekelas? Khu… khu… khu… abis dia entar sama gue di kelas,” kata Regina dengan semangat. Yah, aku hanya bisa berharap si Alan nggak makin kontet aja abis ketemu Regina nanti.
                                       ***
Aku berbaring di kamarku dan seketika mataku terlelap. Sampai pada akhirnya suara pintu membangunkanku.
“Kak! Bantuin gue bikin peer donk.” Ternyata itu suara Liana, adik perempuanku.
“Bikin sendirilah, lo kan pinter. Bisalah. Gue ngantuk nih.” Ketika aku mengatakan dia pintar, itu berarti dia memang pintar. Dan pintar di sini bukanlah pintar layaknya orang biasa. Liana adalah tipe anak yang belajar dengan 30 menit dan semuanya sudah terekam di otaknya. Mengerikan memang, tapi itulah kenyataannya.
“Planet apa yang paling besar?” Belum sempat aku menjawab pertanyaanya dia sudah berkata ‘Jupiter’ sambil menepuk dahinya.
“Kalau planet merah?”
“Venus,” jawabku ngasal.
“Bukannya Mars ya? Mars ah.”
“Lah itu tahu, kenapa tanya coba.” Aku mulai kesal. Maklum aja waktu beauty sleep ku jadi berkurang. Hehe.
“Masa nanya aja gak boleh sih. Sekalian mempererat hubungan kakak adik kita,” katanya sambil nyengir kuda.
“Oh ya, tadi ada telpon kayaknya buat lo. Cuman gue belom sempet nanya namanya dia udeh tutup telpon. Cewek sih.” Regina mungkin ya? Tapi ngapain juga dia nelpon? Niat banget. Ah… Ya sudahlah.

------------------------------------------------------------------------------------------------------
 © Zerica Estefania Surya. Novel 10 Air Mata dibuat untuk tugas mata kuliah creative writing