Selasa, 10 Juli 2012

Midnight Sun

Bersiaplah untuk menyambut kembali salah satu boyband yang paling ditunggu, BEAST pada tanggal 22 Juli 2012. Midnight Sun akan menjadi mini album ke-5 BEAST.11 days more....

Source: KoreanIndo






Sabtu, 07 Juli 2012

Luke and Tear Again

Gw hanya akan membuat drama singkat dan pastinya tentang Luke dan Tear dari Tales of the Abyss. Gw buat karakternya jadi anak SMA, jadi silahkan bermajinasi bagi yang membacanya!!!

PS: Bener-bener singkat lho!

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sudah 2 hari berlalu dan Luke tidak bisa melupakan senyuman Tear. Di kelas pun dia berusaha untuk tidak menatap dan menghindari Tear. Wajahnya langsung panas dan jantungnya terus berdegup kencang dan ia tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Di selasar kelas, Luke mencoba kembali untuk menatap Tear.

Luke
Ah! Gue gak bisa! (sambil berbalik dan menutup mukanya dengan kedua tangannya)

Guy
Gak bisa apa, Luke?
Luke
 Gak bisa natap dia, Guy!

Guy
Dia siapa? (sambil menaikkan salah satu alisnya)
Jade
Paling juga si Tear
Luke
Kok lo tau?
Jade
Apa sih yang gue gak tahu? (sambil membetulkan kacamatanya)
Guy
Emang kenapa? Biasa aja tuh si, Tear (sambil menatap Tear di kejauhan)
Luke
Aduh, Guy. Gue juga nggak tahu. Udah dua hari ini gue gak bisa natep dia. Jantung gue deg"an terus. Abis itu, kadang wajah gue jadi panas.
Guy dan Jade bertatapan...

Guy
Oh, sini sama mama. Tear emang cewek jahat sampai bikin anak mama kayak gini. Cup..cup..cup (sambil mengelus kepala Luke dan memeluknya)

Luke
Iya nih...huhuhuhuhu

Jade
 Sini biar papa hajar si Tear.

Luke
Jangan! Nanti Tear kesakitan (sambil mengecilkan suaranya)
Guy
Oh....Anak mama emang paling baik. Nanti mama sama papa coba cari solusinya yah. (sambil menatap Jade yang tersenyum usil sama dengan dirinya)

Luke yang polos pun tidak tahu rencana kedua temannya itu. Sampai akhirnya ia mendapatkan surat untuk bertemu Guy di sebuah taman. Di taman...

Luke
Mana si, Guy?

Tear
Eh, ada Luke.

Luke kaget dan mulai memiliki firasat dikerjai oleh kedua temannya.

Tear
Kenapa manggil gue, Luke?

Luke
Huh?! Gue mang....gil...sia..pa (sambil memalingkan muka dari Tear)

Tear
Lo kenapa sih? Gak mau natep muka gue lagi. Mang gue ada salah yah sama lo?

Luke
Bukan...gitu...Tear (tetap memalingkan muka)

Tear mendekat dan menarik kerah Luke. Muka mereka berdua berdekatan.

Tear
Lihat muka gue, Luke!

Luke
Gimana mau liat muka lo?! Gue bisa mati, Tear! Setiap kali lihat lo, wajah gue panas dan gue selalu deg"an! Gue su...(sambil menutup mulutnya dengan tangannya)

Tear pun terkejut mendengar pengakuan Luke yang terhenti, namun anehnya Luke malah tersenyum dengan percaya diri dan menatap Tear kembali.

Luke
Yah, ampun, Tear. Ternyata gue suka sama lo. Ma...(ucapan Luke terhenti)

Guy dan Jade
Mau jadi cewek gue? CIEEEEE!!!!

Guy
Anak kita sudah besar, Pa.

Jade
Iya, Ma. (sambil merangkul Guy layaknya suami istri)

Anise
Eh, ada kita juga loh!!

Natalia
Selamat ya! (sambil mengedipkan matanya)

Luke
Kalian!!!!!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Demikian adegan singkat dari imajinasi gila gue. Thanks buat lagu From U-nya Super Junior yang memberi inspirasi gw untuk buat adegan singkat ini. Hahahahahaha.                 
    




Dead Poets Society Quotes

Man, I love these quotes and the film!

Neil Perry: I just talked to my father. He's making me quit the play at Henley Hall. Acting's everything to me. I- But he doesn't know! He- I can see his point; we're not a rich family, like Charlie's. We- But he's planning the rest of my life for me, and I- He's never asked me what I want!

John Keating: Have you ever told your father what you just told me? About your passion for acting? You ever showed him that?

Neil Perry: I can't.

John Keating: Why not?

Neil Perry: I can't talk to him this way.

John Keating: Then you're acting for him, too. You're playing the part of the dutiful son. Now, I know this sounds impossible, but you have to talk to him. You have to show him who you are, what your heart is!

Neil Perry: I know what he'll say! He'll tell me that acting's a whim and I should forget it. They're counting on me; he'll just tell me to put it out of my mind for my own good.

John Keating: You are not an indentured servant! It's not a whim for you, you prove it to him by your conviction and your passion! You show that to him, and if he still doesn't believe you - well, by then, you'll be out of school and can do anything you want.

Neil Perry: No. What about the play? The show's tomorrow night!

John Keating: Then you have to talk to him before tomorrow night.

Neil Perry: Isn't there an easier way?

John Keating: No.

Neil Perry: [laughs] I'm trapped!

John Keating: No you're not.

(Dead Poets Society, 1989)

Kau siapa?

Aku tidak mungkin bisa melupakan hari itu. Di dalam kamarku sendiri, aku mencoba duduk di depan cermin dan mencoba untuk merapikan rambutku. Masih kuingat bagaimana wajahku di depan cermin. Angin dari air conditioner menerpa kulitku dan bisa kurasakan udara dingin nan menyejukkan itu. Kamarku gelap, hanya samar-samar cahaya masuk ke dalam. Aku lupa untuk membuka gorden dan membiarkan jendela tetap tertutup. Alunan lagu day by day kubiarkan terus bermain sembari aku masih menyisir rambutku.
"Trakkk..." Tak sengaja, sisir dengan warna hijau lumut itu luput dari tanganku. Kuambil kembali sisir tersebut dan kutatap kembali cermin yang ada di depanku. Tapi kali ini bukan aku yang terpantul di sana.

Yah, aku yakin itu bukan diriku. Tapi, wanita itu memiliki mataku, memiliki hidungku, paras tubuhku pun sama dengannya. Namun tidak seperti diriku yang memakai kaus putih dengan celana pendek berwarna biru muda, wanita itu dengan anggunnya mengenakan gaun coklat dengan corak hitam berbentuk bunga abstrak di atasnya. Matanya dipenuhi dengan eye shadow coklat sangat cocok dengan gaun yang dia pakai. Lip gloss peach mewarnai bibirnya. Aneh. Dia tampak sepertiku hanya....lebih cantik. Aku memejamkan mataku sejenak, tetapi "dia" masih ada di pantulan cermin tersebut. Aku mencoba menengok ke kanan dan ke kiri, berharap akan ada yang mengatakan padaku bahwa aku sedang dikerjai oleh seseorang. Tapi, "dia" tetap di situ menatapku lurus.

"Kau siapa?" Itulah pertanyaan yang pertama kali kuucapkan padanya. Anehnya, tidak ada ketakutan menyelimuti diriku dan sepertinya aku sangat mengenal wanita itu. Wanita itu hanya tersenyum tanpa berkata sepatah kata pun.

"Kau siapa?" Kataku lagi. Kali ini dia tersenyum sinis dan dari matanya aku tahu dia sedang memandang rendah diriku. Mataku melotot melihat sikapnya dan tiba-tiba rasa marah menyelimutiku.

"KAU SIAPA!" Aku pun berteriak dengan geram dan mulai memegang cermin yang ada di depanku itu. Pada saat yang sama lagu day by day berakhir bersama dengan hilangnya wanita tersebut. Aku mencoba mengusap-usap cermin tersebut dan hanya wajahku yang terpantul di sana. "Dia" menghilang.

......................................................................................................................................................................

Kenapa mimpi tidak semanis kenyataan? Apakah salah jika seseorang bermimpi? Apakah mereka harus berhenti bermimpi? Apakah AKU harus berhenti bermimpi?

"Krak!!" Gelas kaca mungil favoritku hancur begitu saja dalam genggamanku. Warna putih berkilaunya menjadi merah darah dan tanganku tersayat dari pecahannya. Sakit, batinku dalam hati. Kenapa aku tidak merasakan sakit ketika bermimpi? Apakah leboh baik menyerah pada kenyataan? Aku termenung di depan komputer yang menyala. Tunggu! Aku merasa ada yang menatapku. Aku bisa merasakan kehadirannya. Aku mencoba menatap komputerku dan mulai menengok perlahan-lahan ke arah cermin dan "dia" di sana. Aku terbelalak dan mulutku tidak bisa berkata apa-apa meihat sosoknya di cermin. Matanya melirik ke arah pecahan gelas yang berwarna merah kemudian melirik tetesan darah yang jatuh serta mengalir dari tanganku.

Aku mencoba menyembunyikannya. Dia pasti akan merendahkanku lagi, pikirku. Tidak ada ekspresi apa pun di raut wajahnya. Dengan pelan-pelan, ia mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan telapak tangannya. Aku tersentak kaget karena ada bekas sayatan di telapak tangannya sama seperti tangan kananku. Kali ini dia tersenyum, namun dengan tatapan sedih.

"Hei, apakah kau akan menyerah begitu saja?" Kali ini dia berbicara kepadaku. Suaranya pun sangat mirip denganku. Pikiranku makin kacau ingin mengetahui tentang dirinya. Siapa dia sebenarnya? "Jangan menyerah." Dia melihat tangan kanannya sendiri. "Rasa sakit ini hanyalah awalnya. Bersiaplah untuk diinjak-injak, diludahi, diremehkan oleh orang lain. Mereka akan memberimu rasa sakit yang luar biasa sampai rasanya kau tidak akan bisa bernapas. Tangisan air mata akan mengalir deras dari kedua matamu dan tidak akan ada yang bisa kau andalkan."

"Ya, tangan itu....", katanya sambil menunjuk tanganku. "Hanya kaulah yang bisa melindunginya. Hanya kau yang bisa membuatnya tenang. Tubuhmu hanya kau yang bisa mengendalikannya. Pikiranmu pun, hanya bisa percaya pada dirimu."

"Kenapa aku harus mengalami banyak rasa sakit? Bukankah lebih baik bahwa aku lepas dari kenyataan?", kataku padanya. Dia tersenyum dan berkata, "Tidakkah kau tahu apa yang membedakan diriku dengan dirimu? Ketika kau melewati segala rasa sakit itu dan akhirnya kau mendapatkan semuanya, di suatu saat kau akan berjenti sejenak, memejamkan matamu, membukanya kembali dan berkata, 'ahhh...ini adalah kenyataan'. Aku terdiam dan menatapnya masih tidak percaya.

"Jadi....Kau siapa?" Tanyaku ragu. "Apakah kau bodoh? Tentu saja aku adalah kau." Lagi-lagi aku terbelalak. "Kau pikir kenapa kita punya rupa yang sama? Hanya saja aku datang sebagai mimpi".

"Huh? Apa maksudmu?"

"Aku dan kau adalah satu, tapi aku bisa lenyap. Sedangkan kau bisa berdiri tegak dengan kedua kakimu."
"Kau akan menghilang?"
"Kenapa dengan wajahmu yang sedih itu? Hei, aku akan kembali."
"Kapan?"
"Ketika kau menjadi diriku. Tidak buruk bukan?", katanya sambil menaikkan salah satu alisnya. "Jadi, terus berusahalah, jadi kita bisa bertemu lagi dan kali ini di dalam kenyataan tentunya." Setelah mengakhiri perkataannya, ia mulai melambaikan tangannya.

"Sampai jumpa, diriku yang nyata"
"Ah, tung..." Lagu day by day lagi-lagi berakhir bersamaan dengan kepergiannya. Aku mulai melihat kembali wujud asliku. Kutatap lama cermin tersebut dan aku pun tersenyum dan kulambaikan tanganku serta berkata,

"Sampai jumpa, diriku yang akan menjadi nyata."


Jumat, 06 Juli 2012

Trip to RSCM

Kalai dibilang sebuah "wisata" sebenernya gak pantes juga. Gw ke RSCM dalam rangka tugas jurnalistik gw dengan temen" yang tim RSCM pastinya untuk mencari informasi mengenai kriminalitas yang terjadi di Jakarta. Tentu saja untuk mengetahui tingkat kriminalitas, kita harus mengetahui jumlah korban entah itu yang teraniaya atau bahkan meninggal. Jadi, kalau mendapat tugas ke RSCM, tentu saja harus menuju kamar jenazah. Yap, kamar jenazah saudara-saudara. Kami semua berangkat dari area Newton deket kampus dan akhirnya mulai menuju "tanah terjanji" kami. Well, awalnya gw masih biasa aja, tetapi ketika sampai di sana, hati gw mulai deg"an. Jujur aja gw ga siap mental buat lihat mayat. Tentus saja mayat yang berada di RSCM bukanlah mayat biasa. Senior gw waktu itu lagi ngeliput dan ternyata secara tiba-tiba masuklah korban kecelakaan kereta api. Tubuhnya habis terlindas kereta api. Alhasil, dia gak bisa makan setelah meliput.

Gw, Gemmy dan Dita coba mencari kamar jenazah karena Bernard, dkk udah ke RSCM sebelumnya namun ditolak karena surat untuk izin tidak diterima pihak rumah sakit. Setelah berjalan-jalan akhirnya gw menemukan kamar jenazah. Cycil juga minta bantuan kita bertiga buat cari mobil jenazah, jadi bisa liput kalo ada korban yang datang. Setelah berkeliling, gw akhirnya sadar kita bertiga mulai dicurigai orang sekitar. Yah, wajar aja tiga mahasiswi dengan baju layaknya seorang mahasiswa dan tiba-tiba berdiri di dekat kamar jenazah otomatis cari informasi buat tugas. Kita bertiga akhirnya memutuskan buat kembali ke CFC, di mana anak-anak yang lain ngumpul. Gw pun cerita sama Bernard dan kita bertiga gak bisa ke sana karena udah ketahuan sama orang-orang di sekitar sana. Kita bertiga sebelumnya gak sempet masuk ke dalam karena keadaan masih sepi. Baru jam 7 dan kita sudah di sana. Jadi, belum ada apa-apa. Grup berikutnya Felin, dkk. ketahuan satpam dan akhirnya diusir. Akhirnya, tinggal Bernard, dkk. yang tersisa dan mencoba untuk berakting.

Setelah sekian lama, akhirnya mereka datang dan Nike menangis. Yap, mereka melihatnya. Katanya waktu mereka datang, kebetulan juga ada jenazah yang datang dan tentu saja mereka ditegur petugas. Bernard bilang mencoba mencari temannya yang kecelakaan dan si petugas percaya. Yang mereka kaget adalah ketika si petugas membuka kain putih untuk menutup jenazah dengan mudahnya. Nike dan Cecil langsung menangis karena melihat jenazah tersebut dalam keadaan yang mulai membusuk. Katanya bisa dilihat kulitnya sudah menjadi biru dan untungnya jenazah yang mereka lihat masih dalam keadaan utuh.

Setelah RSCM selesai, kami akhirnya menuju ke kantor polisi dan mencoba untuk mencari informasi. Gw dapet bagian kantor polisi deket Lapangan Banteng yang mengurusi mengenai masalah kecelakaan. Namun, karena kita juga butuh yang kriminalitas akhirnya polisi di sana memberi tahu kita untuk menuju kantor polisi di sawah besar. Giliran grup lain yang bertanya dan ternyata mereka mendapatkan foto otopsi korban yaitu seorang tukang ojek yang dibunuh dan katanya lehernya putus. Jadi, alhasil walaupun gw gak melihat mayat tetapi foto tersebut mampu membuat gw gak bisa tidur sehari.

Tapi, dari liputan tersebut gw belajar banyak dan ternyata kriminalitas itu ada dan kejam. Menyedihkan memang, tapi itulah faktanya.

Jumat, 29 Juni 2012

Rooftop Prince Menyejukkan Hatiku

Kenapa gw pasang judul kayak gini? Ini semua gara-gara drama King 2 Hearts yang telah membuat hati gw sakit karena salah satu tokoh favorit gw, Eun Shi Kyung harus mati di episode ke-18. Rasanya what the...?! Tapi di sini gw akui kehebatan si pembuat cerita dan tentunya sang sutradara yang membuat drama ini karena mereka telah memanjakan gw dan adek gw khususnya dalam 18 episode. Jujur setelah kematian Shi Kyung gw gak nonton sisa episodenya. Cuman episode terakhir, berharap Shi Kyung ternyata masih hidup. Sumpah rasanya kehilangan banget orang yang lo suka. Malah pasangan Shi Kyung si putri yang kakinya lumpuh nan cantik dan serasi itu sama dia. Apa si penulis ceritanya gak kasihan ya? Alamak. Udah gitu, jujur gw lebih interest sama kisah cinta Shi Kyung daripada Jae Ha. Hahahahah. Maap ya , Lee Seung Gi.

Setelah adanya lubang dalam hati ini, ade gw bilang Rooftop Prince salah satu drama Korea yang lagi oke banget dan katanya komedi juga. Gw dan ade gw langsung beli. Buat kalian yang belum nonton, silahkan kudu wajib dibeli hukumnya nih drama! Aish...udah yang main si Micky, terus ada 3 cowok ganteng lainnya yg jadi pelengkap cerita ini terus ceweknya yg jadi karakter utama juga manis orangnya. Crita? Happy ending walaupun di cara yang berbeda. Tapi, pesannya dapet banget ketika lo mencintai seseorang dan memang udah takdir lo dengan orang tersebut, sampai reinkarnasi pun lo akan bertemu orang yang sama walaupun di berbeda era. Ah...itu baru namanya romantis. Gw recommended banget drama ini, dan gw kasih inti ceritanya aja, gimana mereka mengemasnya? Silahkan nonton Rooftop Prince!


Sumber gambar: Tumblr

Being A News Anchor

Sebenernya kejadian ini udah lama banget, cuman memang Tuhan baru mengizinkan gw untuk menulisnya hari ini sepertinya. So, sebulan atau 2 bulan yang lalu, gw lupa tepatnya kapan, di kampus gw ada acara Communication Festival. Dan waktu itu karena buat surprise ultah Tami, akhirnya gw dan geng pipi kecuali Cinthya karena dia panitia ikut workshop mengenai how to be a good news anchor bareng Gustav Aulia, salah satu pembawa berita di salah satu televisi swasta. Awalnya gw pikir untuk membuang waktu dan sekedar pengen tahu Lab. TV UMN (mang dasar norak kayaknya). Akhirnya, gw pun ikut workshop tersebut. Hedeh, Gustav Aulia keren banget! Orangnya asik dan yang bikin makin kagum adalah ketika dia mulai mengajari kita cara membaca berita. Astaga...tuh orang emang ditakdirin jadi news anchor kayaknya. Waktu dia baca berita sama waktu dia ngomong beda banget. Hahahaha.

Setelah itu ada momen di mana 15 orang yang ingin menjadi news anchor akan dinilai secara langsung oleh Gustav Aulia. Wah, awalnya gw pengen banget cuman gw masih agak malu dan waktu itu gw duduk di bagian samping jadi kayaknya Pak Gustav gak liat. (Sebenernya agak aneh juga manggil dia Pak karena wajahnya gak ada tanda-tanda penuaan sama sekali) Eh, ternyata ketika mereka mulai maju satu-satu hanya ada 13 orang. Jadi, dia minta 2 orang lagi. Meishi, Erwanto, Gemmy sama Nabs dukung gw buat maju. Akhirnya gw pun memberanikan diri dan gw ditunjuk. Eh, waktu gw maju, cowok yg tadinya mundur karena gak berani malah pengen maju lagi. Ya udah gw pun mundur, eh malah si Pak Gustav gak masalah dengan tambahan satu orang lagi. Jadilah gw orang terakhir dan orang ke-16. Astaga... Waktu mulai pasang mike kecil di baju gw rasanya deg"an bukan main.

"Namanya siapa?"
"Zerica", gw jawab, eh malah temen gw yang ribut, "Jejer! Jejer!"
"Huh? Jeje?" Si Pak Gustav malah bingung.
Ya sudahlah. "Siap ya", katanya. Gw pun mulai ke arah kamera dan ternyata di dalam kamera itu sudah ada beritanya, jadi yah kita tinggal baca. "3..2..1!" Gw pun mulai baca berita yang sangat cepat berjalan itu. Sumpah deh gw takut banget salah baca dan keselip. Tapi, akhirnya selama 30 detik membaca berita itu berakhir dengan baik-baik saja.

Gak taunya ternyata dari yang maju tadi dipilih lima terbaik dan dapat hadiah dari si pembawa seminar. And, guess what? Gw juara satu! Rasanya waktu dia manggil nama gw dengan "Jeje", gw agak gak percaya karena anak-anak yang lain juga keren banget waktu baca berita. Gw pun maju dan masih setengah sadar. Tapi, gw melihat Pak Gustav mulai membagi coklat dan akhirnya sampailah pada gw. Dengan senyum mautnya dia bilang, "Good" dan gw pun bersalaman dengan gw. Astaga, dia emang gak cocok dipanggil bapak kayaknya, ganteng pula...astaga. Jadi, bingung harus manggil gimana.




Gila! Padahal gw ga nyangka sama skali. Kadang sesuatu terjadi ketika kita justru tidak terlalu memikirkannya. Aneh. Tapi, itu terjadi sama gw. Sayangnya, hadiah CD dari panitia yang berisi video news anchor gw ga  bisa kebaca formatnya. Jadi, gak ada kenangannya deh. Yah, sudahlah. Setidaknya gw masih inget betul di otak gw ini. Hahahahah. Tadinya cuman iseng ikut, eh malah gw mendapatkan sesuatu yang berharga. Mulai dari seminarnya, dari Lab TV karna gw akhirnya liat juga dan tentunya dari keberanian gw. Thanks a lot, Gustav Aulia, Panitia Comfest karena udah bikin workshop yang keren.